Gimana nggak edan coba.
The shopping spree yang lebih melelahkan dari gunung itu sendiri
Sebelum berangkat, aku belanja. Dan bukan belanja sedikit. Dari carrier, trekking pole, sleeping bag, rain cover, sampai hal-hal yang aku bahkan nggak tahu kegunaannya waktu itu — semua masuk keranjang. Classic behavior: nggak prepare fisiknya, tapi gear-nya lengkap duluan.
Carrier pertama aku adalah TNF Griffin 65L. Gede. Kokoh. Keliatannya serius banget. Dan kalau kamu nanya apakah aku yang bawa carrier itu selama pendakian Rinjani... jawabannya adalah nggak. Carrier itu dari awal sampai akhir perjalanan ada di punggung Mamad — porter aku yang dari hari pertama udah tau banget vibe-nya Furi di alam bebas itu kayak gimana.
Mamad ini bukan sekadar porter. Sekarang dia udah jadi sahabat aku. Orang yang dengan sabar nemenin aku di trek, nunggu kalau aku kehabisan napas (which was often), dan nggak pernah sekalipun nge-judge.
Tapi aku harus jujur di sini. Kalimat "Mamad nggak pernah sekalipun nge-judge" itu... bohong. Besar-besaran. Faktanya, di balik senyum manisnya itu, Mamad with full confidence ngegosip soal aku ke porter-porter lain di trek. Sambil jalan. Sambil bawa carrier aku. Sambil aku masih ngos-ngosan di belakang dan nggak tau apa-apa.
Nggak cukup sampai di sana — dia bahkan posting di sosmed soal betapa pegelnya punggung dia setelah nemenin aku. Public. Buat semua orang baca. Emang babi hutan.
Dan yang paling lucu? Aku tau semua itu, aku kesel, tapi sampai sekarang dia tetap jadi sahabat aku. Entah itu karena aku yang terlalu pemaaf atau karena deep down aku sadar dia ada benarnya juga. Mungkin dua-duanya. Don't tell him I said that.
Pernah sih sekali aku bawa carrier itu sendiri — waktu naik Gunung Gede bareng Gigi. Aku pake, tapi ya... nggak lama. Hehe. Entah kenapa carrier itu selalu lebih happy di punggung Mamad. Mungkin karena dia emang udah terlatih. Mungkin karena itu memang takdirnya. Who knows.
Furi vs Rinjani — spoiler: Rinjani menang telak
Oke jadi ini bagian yang jujur. Aku naik Rinjani dalam kondisi yang bisa dibilang completely unprepared secara fisik. Nggak ada training, nggak ada latihan jalan kaki yang serius, nggak ada persiapan cardio apapun. Yang ada cuma semangat yang entah datengnya dari mana dan carrier yang untungnya ada Mamad.
Hasilnya? Aku jadi beban. Beneran. Aku nyusahin Mamad, nyampe paling terakhir di setiap checkpoint, badan gosong kena matahari Lombok yang literally nggak main-main, dan napas aku itu basically jadi soundtrack perjalanan — ngos-ngosan sepanjang trek.
Tapi yang bikin aku tetap gerak adalah orang-orang di sekitar aku. Di perjalanan itu aku ketemu mereka — Nunu, Esta, Baja, Mamad, Yall, Cery, dan beberapa lainnya yang awalnya stranger, tapi entah gimana dalam beberapa hari trekking bareng langsung jadi sahabat selamanya. Ada something tentang susah bareng di gunung yang bikin bonding-nya beda level.
Sampai puncak? Tentu dong — dengan sedikit bantuan
Kalau kamu nanya aku nyampe puncak atau nggak — ya nyampe. Tapi biar transparent, sebagian besar itu berkat Mamad yang literally narik-narik aku di tanjakan terakhir. Bukan kiasan. Ditarik beneran. Dan aku dengan bangga menerima bantuan itu tanpa malu sedikitpun.
Sayangnya — dan ini bagian yang sampai sekarang masih bikin kesal — waktu aku udah di puncak, kabutnya tebel banget. Pemandangan yang katanya breathtaking itu... nggak keliatan. Putih semua. Aku udah susah payah sampai sana, badan udah dikorbankan, dan langit bilang "nggak hari ini ya, Furi."
Nyesel? Iya. Tapi kenapa balik terus?
Kalau ditanya nyesel naik Rinjani — jujur, iya. Badan aku protes keras, kulit gosong seminggu, dan aku nyusahin Mamad sampai aku nggak enak sendiri. Tapi entah kenapa, nggak lama setelah pulang, aku udah mikirin balik lagi. Dan bukan cuma sekali. Rinjani itu udah aku datengin beberapa kali sekarang
dan soon bakal jadi yang keempat.
Ada sesuatu di gunung itu yang susah aku jelasin. Mungkin Rinjani itu kayak orang yang bikin kamu kesal tapi kamu tetep kangen. Capeknya nyata, tapi kenangan yang dibawa pulang itu lebih kuat dari rasa capeknya. Ketemu Mamad, ketemu squad yang jadi sahabat, ketemu versi diri sendiri yang ternyata bisa lebih dari yang aku kira , itu nggak bisa dibeli.
Dan next time? Aku bakal lebih siap. Mungkin. Probably. We'll see.
Pernah punya momen "what am I doing here" tapi tetep lanjut?
Cerita dong di bawah! Atau kalau kamu juga pernah ke Rinjani — atau lagi planning — aku mau dengerin ceritanya. Siapa tau kita bisa sharing info atau malah jadi teman satu trek. That would be so fun.
- Gunung pertama kamu apa — dan seberapa siap kamu waktu itu?
- Ada nggak satu perjalanan yang bikin kamu kapok tapi somehow balik lagi?
- Team "prepare everything" atau team "yaudah gaskeun aja"?
Tetap semangat (dan jangan lupa porter),
Furi

0 comments