Skip to main content

EP.1 MONTANYA "Jadi Beban di Rinjani dan Nggak Kapok Sama Sekali"

 Jadi begini ceritanya. Suatu hari di bulan Oktober 2023, entah kenapa otak aku memutuskan bahwa ide terbaik yang bisa dilakukan adalah naik gunung. Bukan gunung sembarangan. Bukan gunung yang, you know, ramah pemula. Tapi Rinjani. Gunung berapi aktif 3.726 mdpl di Lombok. Sendirian. Tanpa persiapan fisik yang berarti.

Gimana nggak edan coba.

"Olahraga? Nggak pernah. Cardio? What's that? Tapi somehow aku udah booking tiket ke Lombok dan beli carrier sebelum sempat berpikir dua kali."

The shopping spree yang lebih melelahkan dari gunung itu sendiri

Sebelum berangkat, aku belanja. Dan bukan belanja sedikit. Dari carrier, trekking pole, sleeping bag, rain cover, sampai hal-hal yang aku bahkan nggak tahu kegunaannya waktu itu — semua masuk keranjang. Classic behavior: nggak prepare fisiknya, tapi gear-nya lengkap duluan.

Carrier pertama aku adalah TNF Griffin 65L. Gede. Kokoh. Keliatannya serius banget. Dan kalau kamu nanya apakah aku yang bawa carrier itu selama pendakian Rinjani... jawabannya adalah nggak. Carrier itu dari awal sampai akhir perjalanan ada di punggung Mamad — porter aku yang dari hari pertama udah tau banget vibe-nya Furi di alam bebas itu kayak gimana.


Mamad ini bukan sekadar porter. Sekarang dia udah jadi sahabat aku. Orang yang dengan sabar nemenin aku di trek, nunggu kalau aku kehabisan napas (which was often), dan nggak pernah sekalipun nge-judge.

Tapi aku harus jujur di sini. Kalimat "Mamad nggak pernah sekalipun nge-judge" itu... bohong. Besar-besaran. Faktanya, di balik senyum manisnya itu, Mamad with full confidence ngegosip soal aku ke porter-porter lain di trek. Sambil jalan. Sambil bawa carrier aku. Sambil aku masih ngos-ngosan di belakang dan nggak tau apa-apa.

YANG BIKIN MAKIN KESAL

Nggak cukup sampai di sana — dia bahkan posting di sosmed soal betapa pegelnya punggung dia setelah nemenin aku. Public. Buat semua orang baca. Emang babi hutan.

Dan yang paling lucu? Aku tau semua itu, aku kesel, tapi sampai sekarang dia tetap jadi sahabat aku. Entah itu karena aku yang terlalu pemaaf atau karena deep down aku sadar dia ada benarnya juga. Mungkin dua-duanya. Don't tell him I said that.

"Sahabat terbaik itu adalah yang tau semua kejelekan kamu, pernah ngomongin kamu di belakang, tapi tetep ada. Mamad itu definisi teman yang complicated — tapi genuine. Babi hutan yang genuine."

Pernah sih sekali aku bawa carrier itu sendiri — waktu naik Gunung Gede bareng Gigi. Aku pake, tapi ya... nggak lama. Hehe. Entah kenapa carrier itu selalu lebih happy di punggung Mamad. Mungkin karena dia emang udah terlatih. Mungkin karena itu memang takdirnya. Who knows.

Furi vs Rinjani — spoiler: Rinjani menang telak

Oke jadi ini bagian yang jujur. Aku naik Rinjani dalam kondisi yang bisa dibilang completely unprepared secara fisik. Nggak ada training, nggak ada latihan jalan kaki yang serius, nggak ada persiapan cardio apapun. Yang ada cuma semangat yang entah datengnya dari mana dan carrier yang untungnya ada Mamad.

Hasilnya? Aku jadi beban. Beneran. Aku nyusahin Mamad, nyampe paling terakhir di setiap checkpoint, badan gosong kena matahari Lombok yang literally nggak main-main, dan napas aku itu basically jadi soundtrack perjalanan — ngos-ngosan sepanjang trek.

"Di titik tertentu di trek Rinjani, aku berhenti dan nanya ke diri sendiri: kenapa aku di sini? Dan jawaban terbaik yang bisa aku temukan waktu itu adalah... nggak tau. Tapi kaki tetep jalan."

Tapi yang bikin aku tetap gerak adalah orang-orang di sekitar aku. Di perjalanan itu aku ketemu mereka — Nunu, Esta, Baja, Mamad, Yall, Cery, dan beberapa lainnya yang awalnya stranger, tapi entah gimana dalam beberapa hari trekking bareng langsung jadi sahabat selamanya. Ada something tentang susah bareng di gunung yang bikin bonding-nya beda level.

RINJANI SQUAD — ORANG-ORANG YANG JADI SAHABAT SELAMANYA
Mamad porter + sahabat
Nunu squad Rinjani
Esta squad Rinjani
Baja squad Rinjani
Yall squad Rinjani
Cery squad Rinjani

Sampai puncak? Tentu dong — dengan sedikit bantuan

Kalau kamu nanya aku nyampe puncak atau nggak — ya nyampe. Tapi biar transparent, sebagian besar itu berkat Mamad yang literally narik-narik aku di tanjakan terakhir. Bukan kiasan. Ditarik beneran. Dan aku dengan bangga menerima bantuan itu tanpa malu sedikitpun.

Sayangnya — dan ini bagian yang sampai sekarang masih bikin kesal — waktu aku udah di puncak, kabutnya tebel banget. Pemandangan yang katanya breathtaking itu... nggak keliatan. Putih semua. Aku udah susah payah sampai sana, badan udah dikorbankan, dan langit bilang "nggak hari ini ya, Furi."

"Sampai puncak Rinjani. Kabut. Putih semua. Aku cuma bisa ketawa — karena nangis juga nggak bakal ngubah cuacanya."
Rinjani 3.726 mdpl
Oktober 2023
Solo trip
Puncak berkabut
TNF Griffin 65L

Nyesel? Iya. Tapi kenapa balik terus?

Kalau ditanya nyesel naik Rinjani — jujur, iya. Badan aku protes keras, kulit gosong seminggu, dan aku nyusahin Mamad sampai aku nggak enak sendiri. Tapi entah kenapa, nggak lama setelah pulang, aku udah mikirin balik lagi. Dan bukan cuma sekali. Rinjani itu udah aku datengin beberapa kali sekarang

dan soon bakal jadi yang keempat.

Ada sesuatu di gunung itu yang susah aku jelasin. Mungkin Rinjani itu kayak orang yang bikin kamu kesal tapi kamu tetep kangen. Capeknya nyata, tapi kenangan yang dibawa pulang itu lebih kuat dari rasa capeknya. Ketemu Mamad, ketemu squad yang jadi sahabat, ketemu versi diri sendiri yang ternyata bisa lebih dari yang aku kira , itu nggak bisa dibeli.

Dan next time? Aku bakal lebih siap. Mungkin. Probably. We'll see.


Pernah punya momen "what am I doing here" tapi tetep lanjut?

Cerita dong di bawah! Atau kalau kamu juga pernah ke Rinjani — atau lagi planning — aku mau dengerin ceritanya. Siapa tau kita bisa sharing info atau malah jadi teman satu trek. That would be so fun.

  • Gunung pertama kamu apa — dan seberapa siap kamu waktu itu?
  • Ada nggak satu perjalanan yang bikin kamu kapok tapi somehow balik lagi?
  • Team "prepare everything" atau team "yaudah gaskeun aja"?
Sampai cerita berikutnya — mungkin soal trip ke Rinjani yang keempat, atau soal kenapa aku masih nggak bisa bawa carrier sendiri.

Tetap semangat (dan jangan lupa porter),
Furi

Comments

Popular posts from this blog

EP.1TIPS "Apakah Double Cleansing Itu Penting?"

  🫧 Apakah Double Cleansing Itu Penting? (Atau cuma trik biar kita beli dua sabun sekaligus?) Hai gengs skincare-an dan calon-calon kulit glowing alami~ Pernah nggak sih liat orang di TikTok atau Instagram yang bilang: “Kunci kulit bersih tuh  double cleansing, bestie! ” Terus lo mikir, “Lah… double cleansing apaan lagi? Satu aja udah mager, ini disuruh dua kali cuci muka?” 😭 Tenang, tenang. Mari kita bahas dengan kepala (dan pori-pori) yang dingin. 💄 Jadi, Apa Itu Double Cleansing? Double cleansing itu artinya  cuci muka dua kali , tapi bukan pakai sabun yang sama dua kali ya. Langkahnya kayak gini: First Cleanse:  pakai  oil cleanser  atau  micellar water  buat ngangkat makeup, sunscreen, dan kotoran berbasis minyak. Second Cleanse:  baru deh pakai  facial wash  atau  foam cleanser  buat bersihin sisa kotoran yang berbasis air. Logikanya simpel banget: Kotoran berbasis minyak → hilangnya pakai minyak. Kotoran berbasis...

Jerawat oh jerawat

Perjalanan Gw Melawan Jerawat Hello epribadih! Di sini gw mau share pengalaman pribadi tentang  jerawat . Jujur, alasan gw nulis ini karena udah  lelah banget  baca artikel-artikel yang isinya cuma ngomongin bahan alami “katanya bisa blablabla”, atau malah ujung-ujungnya jualan produk nggak jelas. Ini murni  pengalaman pribadi gw sendiri , tanpa sponsor, tanpa jualan. Awalnya, muka gw baik-baik aja — bahkan bisa dibilang keren lah ya 😎 Kalau jerawatan pun cuma satu dua, gw pencet, langsung hilang tanpa bekas. Kadang gw mikir, “wah jangan-jangan gw beda dari manusia normal wkwkwkw” (jangan baper, bercanda ya). Tapi serius, kulit gw dulu mulus banget, meskipun sawo matang dan jelas bukan putih — tapi ya lumayanlah buat ukuran muka. Hingga suatu hari, negara api menyerang 🔥 Muka gw hancur lebur. Awalnya cuma muncul bintik-bintik kecil kayak komedo, tapi karena gw sering  garuk dan pencet , malah ninggalin  bekas hitam-hitam  di muka. Foto ini diambil se...

Hai, Nama Aku Furi and Honestly, My Life is a Lot

  Halo! Welcome to my little corner of the internet — yang sejujurnya baru aku bikin karena ngerasa butuh tempat. Bukan tempat makan (walaupun itu juga super penting buat aku), tapi tempat buat cerita. Karena kalau diceritain ke orang, kadang yang ada malah jadi bahan gosip. Kalau disimpen sendiri, ya numpuk. Jadi nulis aja sekalian, right? Nama aku Furi.  Perempuan biasa yang hidupnya kalau diliat dari luar kelihatan chill. Tapi actually? Kepala aku itu penuh banget. Penuh keinginan, penuh rencana, dan somehow juga penuh masalah yang mostly aku bikin sendiri. Banyak keinginan = banyak drama (and I own that) Aku ini orangnya pengen banyak hal. Mau staycation di sini, mau nyobain resto baru itu, mau belajar hal ini, mau beli itu — tapi dompet dan waktu sering kali have their own agenda. Dan dari situlah lahir berbagai episode kecil dalam hidup aku yang kelihatannya sepele tapi cukup bikin pusing sendiri. "I'm not a problem solver. I'm literally the source of the problem. Ta...