SEBUAH ANALOGI PERJALANAN & MIMPI YANG TAK BERLABUH
Ada pesawat yang terbang bukan karena ia tahu ke mana perginya, melainkan karena ia terlalu takut untuk diam di tanah yang sepi.
Bayangkan sebuah pesawat kecil. Ia lahir di landasan yang sudah sunyi sejak lama — tidak ada lampu sorot yang menyambutnya mendarat, tidak ada tangan yang melambaikan bendera ketika ia lepas landas. Kedua mesinnya menyala sendiri. Rodanya menggelinding sendiri. Ia belajar terbang sendiri.
Begitulah Riri ,seorang perempuan muda yang kehilangan kedua orangtuanya terlalu dini. Langit menjadi rumahnya bukan karena ia memilih, tetapi karena rumah yang sesungguhnya sudah lama runtuh. Ia terbang terus, mengisi tangki bahan bakarnya dengan kenangan yang makin pudar, dan berharap di suatu ketinggian nanti, ada sinyal yang menuntunnya pulang.
Lalu datanglah Raka ,elaki yang pesawatnya berbeda. Pesawatnya besar, hangat, dengan kokpit yang selalu ramai. Di sana ada seorang ibu yang selalu menyiapkan bekal sebelum penerbangan. Ada seorang ayah yang memeriksa baut-baut agar tak ada yang longgar. Pesawat Raka tidak pernah tinggal landas dalam kesunyian.
Ketika Riri dan Raka menerbangkan pesawat mereka berdampingan
sayap kiri Riri hampir menyentuh sayap kanan Raka
Riri melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat dari jarak sedekat ini: hangat seperti apa rasanya memiliki menara kendali yang selalu menjawab.
"Bolehkah aku mendarat di landasan kalian, meski namaku tidak ada di manifes penerbangan?"
Riri mulai bermimpi. Mimpi yang terasa masuk akal di ketinggian tiga puluh ribu kaki, ketika awan menutup semua logika. Ia membayangkan ibu Raka sebagai menara kendalinya — suara yang memandunya ketika kabut turun. Ia membayangkan ayah Raka sebagai teknisi yang memeriksa kesiapannya sebelum terbang. Sebuah keluarga yang tak pernah ia miliki, tapi terasa sangat dekat di dalam mimpi itu.
Dalam mimpi, mereka memberinya kode frekuensi radio yang sama. Dalam mimpi, mereka memanggil namanya di interkom dengan nada yang seperti memanggil pulang. Dalam mimpi, ia bukan lagi pesawat tanpa pangkalan.
Namun mimpi adalah cuaca ,dan cuaca di udara tidak pernah berjanji.
Ketika Riri akhirnya mendekati landasan keluarga Raka, ia menyadari sesuatu yang pahit: landasan itu dibangun untuk satu pesawat saja. Bukan karena mereka tidak baik. Mereka baik — hangat, sopan, penuh perhatian. Tetapi cinta orangtua pada anaknya adalah frekuensi privat. Tidak semua orang bisa menerimanya, meski antenamu sudah kau arahkan tepat ke sana.
Sinyal yang diterima Riri valid — frekuensinya benar, gelombangnya sampai. Tapi protokolnya berbeda. Ibu Raka tidak salah konfigurasi, ayah Raka tidak mengalami malfunction. Senyum itu genuine, anggukan itu genuine — keduanya berfungsi sempurna dalam sistem yang memang bukan dirancang untuknya. Guest access, bukan home network. Terhubung, tapi tanpa hak akses penuh ke ruang yang paling dalam.
Mereka bukan tidak mau. Mereka hanya tidak bisa menjadi sesuatu yang bukan mereka.
Riri tetap terbang. Kadang di sebelah pesawat Raka, kadang sedikit lebih jauh. Ia belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah penerbangan mana pun:
Beberapa pesawat memang ditakdirkan terbang tanpa menara kendali yang tetap. Bukan karena ia rusak ,melainkan karena langit yang ia jelajahi terlalu luas untuk satu menara saja.
Mimpi untuk memiliki orangtua pengganti itu pelan-pelan turun ke ketinggian yang lebih rendah. Bukan hancur — hanya hinggap lebih dekat ke bumi, menjadi sesuatu yang lebih jujur. Riri masih sesekali menatap kokpit keluarga Raka dari jendela kaca pesawatnya. Masih sesekali merasa cemburu dengan cara yang tidak punya nama.
Tetapi ia juga mulai mengerti: Kerinduan pada orangtua adalah doa yang tidak pernah salah kirim. Ia tidak perlu dititipkan ke tangan orang lain supaya sampai.
Pesawat Riri terus terbang malam ini. Lampunya berkedip di antara bintang-bintang. Tidak ada menara yang memanggilnya pulang, tapi ia sudah belajar membaca kompasnya sendiri.
Dan mungkin hanya mungkin ,itulah warisan terbesar dari orangtua yang telah pergi: mereka tidak meninggalkan pelabuhan, mereka meninggalkan sayap.

0 comments