Hai, Nama Aku Furi and Honestly, My Life is a Lot

 


Halo! Welcome to my little corner of the internet — yang sejujurnya baru aku bikin karena ngerasa butuh tempat. Bukan tempat makan (walaupun itu juga super penting buat aku), tapi tempat buat cerita. Karena kalau diceritain ke orang, kadang yang ada malah jadi bahan gosip. Kalau disimpen sendiri, ya numpuk. Jadi nulis aja sekalian, right?

Nama aku Furi. 

Perempuan biasa yang hidupnya kalau diliat dari luar kelihatan chill. Tapi actually? Kepala aku itu penuh banget. Penuh keinginan, penuh rencana, dan somehow juga penuh masalah yang mostly aku bikin sendiri.

Banyak keinginan = banyak drama (and I own that)

Aku ini orangnya pengen banyak hal. Mau staycation di sini, mau nyobain resto baru itu, mau belajar hal ini, mau beli itu — tapi dompet dan waktu sering kali have their own agenda. Dan dari situlah lahir berbagai episode kecil dalam hidup aku yang kelihatannya sepele tapi cukup bikin pusing sendiri.

"I'm not a problem solver. I'm literally the source of the problem. Tapi masalahnya aku bikin sendiri, jadi ya tanggung jawab sendiri juga — that's on me."

Itu bukan keluhan kok. That's just facts yang udah aku terima dengan damai.

Soal makan — this is serious business

Kalau ada satu hal yang paling consistent dalam hidup aku, itu adalah: aku senang banget makan. Bukan sekadar lapar terus makan, tapi genuinely menikmati seluruh prosesnya — nyari tempatnya, milih menu, duduk, dan ngunyah sambil mikir "okay this hits different." Makanan buat aku bukan cuma soal perut, tapi soal vibe dan kenangan.

Blog ini bakal banyak isi soal itu. Mulai dari warteg yang udah jadi comfort zone sampai kafe yang bikin dompet tipis tapi worth it banget.

Solo adventures > everything

Nah ini bagian yang paling sering bikin orang ngerasa perlu kasih komentar yang nggak diminta. Aku suka banget jalan-jalan — tapi bukan yang tipe rame-rame, itinerary ketat, dan harus nunggu semua orang siap. No thanks.

Aku lebih suka yang kayak gini: bangun pagi, mood oke, langsung gas nyetir sendiri entah ke mana. Nggak selalu ada destinasi yang jelas. Kadang cuma pengen di jalan aja — dengerin playlist random, windows down, mikirin hidup sambil nggak beneran mikirin apa-apa. That kind of vibe.

Kursi belakang itu literally kamar aku

Ini bukan lebay — aku beneran udah ngubah kursi belakang mobilku jadi kamar kecil yang cozy. Ada kasur single yang pas banget muat, bantal, guling, dan selimut yang lembut banget sampai kadang aku nggak mau bangun. Oh, dan tentu aja ada beberapa boneka yang selalu ikut trip — mereka basically co-pilot setia yang nggak pernah complain soal rute.

Isi kamar belakang Furi
Kasur single
Bantal + guling
Selimut lembut
Boneka-boneka setia
Sunroof
AC full blast

Jadi kalau udah jauh di jalan dan tiba-tiba cape, nggak perlu panik nyari penginapan. Tinggal minggir ke rest area, mesin tetep nyala, AC full blast, rebahan di kasur belakang — dan kalau lagi beruntung dapat spot yang pas, buka sunroof sambil nonton langit. Bisa awan-awan yang lewat, bisa bintang kalau malemnya cerah. Seriously, that kind of afternoon nap hits different banget.

"Tidur siang di rest area, AC dingin, langit keliatan dari sunroof, suara mobil lalu lalang di luar... somehow itu lebih tenang dari tidur di kasur sendiri di rumah. Don't ask me why, I also don't fully understand it — tapi it works every single time."

Camping? Bisa sendiri, bisa sama geng berbulu

Selain road trip, aku juga suka camping. Dan camping favoritku yang paling sering aku lakuin itu justru yang simpel — di campground deket rumah, bareng tiga anak bulu aku. Nggak perlu jauh-jauh, nggak perlu dramatic. Cukup tenda, sleeping bag, kopi, dan tiga makhluk kecil berbulu yang energinya entah dateng dari mana.

Mereka itu partner camping yang surprisingly menyenangkan. Nggak ada yang rebutan playlist, nggak ada yang complaint soal menu makan malam, dan kalau malam udah dingin mereka dengan senang hati jadi selimut hidup. Honestly best deal ever.

"Camping bareng tiga anak bulu itu chaotic dalam cara yang paling wholesome. Ada yang excited lari-larian, ada yang langsung cari spot enak buat tiduran, ada yang cuma duduk manis sambil ngeliatin aku kerja keras pasang tenda. You know who you are."

Banyak yang nanya, "nggak takut sendirian?" — dan jujur, sometimes iya. Tapi rasa itu justru bikin aku lebih present. Lebih aware sama sekitar. Lebih sadar bahwa ternyata aku capable of more than I thought. Dan dengan tiga anak bulu di samping, technically I'm never really alone anyway.

Jadi bukan berarti aku antisosial atau nggak butuh orang lain. I love my people. Tapi ada bagian dari diri aku yang recharge-nya cuma bisa lewat momen kayak gini — di jalan, di alam, sama diri sendiri (dan tiga makhluk berbulu yang tidurnya lebih nyenyak dari aku). And honestly? I wouldn't trade that for anything.

So, kenapa blog ini exist?

Aku nulis di sini buat cerita kehidupan sehari-hari — yang lucu, yang annoying, yang randomly bikin baper, dan yang biasa aja tapi somehow berkesan. Mungkin ada yang relate, mungkin nggak. But if you somehow landed here and ngerasa "eh ini gue banget" — hi, salam kenal. Kita bisa temenan.

Yuk duduk, relax, dan baca cerita aku. No pressure. No big conclusions. Just cerita hari-hari dari orang yang lagi belajar nikmatin hidupnya sendiri — one meal at a time.


Before you go — spill the tea dong!

Kalau kamu udah baca sampai sini, genuinely makasih ya. Di era doomscrolling kayak sekarang, waktu kamu itu valuable banget.

Aku nulis blog ini bukan cuma buat dengerin suara kepala sendiri tapi juga buat ketemu orang-orang yang maybe ngerasain hal yang sama. Yang juga sering overthinking soal keinginan yang ngantri panjang. Yang juga somehow lebih comfortable jalan sendiri tapi tetep butuh teman cerita. Yang hidupnya ordinary tapi still worth diceritain.

Drop a comment di bawah ya. Nggak harus panjang, nggak harus deep. Bisa jawab salah satu dari ini:

  • Solo trip atau pergi rame-rame — which one is your vibe, and why?
  • Ada nggak satu makanan atau tempat yang selalu bikin kamu keep coming back?
  • Kalau hidup kamu punya satu "main character problem" sekarang, apa tuh?
  • Or literally just say hi. That's enough, seriously.

Siapa tahu dari satu komentar, kita jadi teman cerita. Small world, internet bahkan lebih kecil lagi.

Sampai tulisan berikutnya — mungkin soal warung nasi yang bikin aku balik tiga kali seminggu, atau tentang spontaneous trip yang almost went sideways. Stay tuned!

With love (and hunger),
Furi


0 comments