Belum kapok, belum kurus, belum rajin olahraga. Tapi tetap berangkat. Hebat, kan? *ketawa jahat*
Habis dari Rinjani, badan masih protes, kulit masih gosong, dan Mamad kayaknya masih trauma. Kira-kira apa yang dilakukan orang waras di situasi itu? Istirahat. Evaluasi diri. Mulai olahraga.
Yang aku lakukan? Daftar naik Kerinci.
Gunung Kerinci. 3.805 mdpl. Gunung berapi tertinggi di Sumatera. Dan aku, perempuan yang dari Rinjani aja udah bikin satu porter hampir pensiun dini, dengan penuh keyakinan memutuskan ini adalah ide yang bagus. Hebat, kan? *ketawa jahat*
Squad Kerinci — kenalan dulu
Kali ini aku nggak sendirian. Ada Mamad tentu saja — porter sekaligus sahabat sekaligus orang yang entah kenapa masih mau nemenin aku padahal dia tau persis apa yang bakal terjadi. Ada Esta, sahabat aku yang strong, reliable, dan pada perjalanan ini akan mencapai puncak kesabarannya. Ada Baja yang udah kayak kakak di gunung. Dan dua wajah baru — Nika dan Bale, pasangan temennya Baja.
Khusus Nika — aku mau dedikasikan satu paragraf. Nika ini perempuan yang... oke, aku mau bilang ini dengan penuh kasih sayang: dia lucu, menyenangkan, dan kuat banget di trek. Literally jalannya stabil, napasnya oke, penampilannya tetap manis. Sementara aku? Aku adalah kontras yang sempurna. Jalan pelan, napas ngaur, muka udah kayak orang baru selesai lari maraton padahal baru jalan 20 menit. Salut, Nika. Serius.
Apakah aku jadi beban? Pertanyaan yang jawabannya sudah jelas
Iya. Jelas banget. Tanpa perlu ditanya.
Aku udah berusaha semaksimal mungkin — itu beneran, bukan alesan. Tapi apadaya kondisi badan aku yang... let's say, sedang dalam fase menggembul, ditambah track Kerinci yang nggak main-main, bikin aku jadi slow walker resmi di grup ini. Malu? Malu banget. Tapi mau gimana lagi, kaki tetap jalan walau pelan.
Yang bikin situasi makin iconic adalah posisi akhir aku di trek — lagi-lagi, cuma aku dan Mamad. Dua orang terakhir. Di belakang semua orang. Dengan kondisi hujan. Dan di Kerinci, yang notabene adalah habitat harimau Sumatera, berjalan berdua paling belakang dalam keadaan basah kuyup itu punya dimensi horor tersendiri yang nggak ada di gunung lain.
Hujan. Gelap. Paling belakang. Hutan Kerinci. Harimau Sumatera somewhere out there. Aku dan Mamad. Dua orang yang salah satunya udah pasti kesel sama yang satunya lagi.
Aku yakin banget Mamad udah level kesel yang berbeda di momen itu. Dia nggak ngomong banyak, tapi aku tau. Aku selalu tau. Mungkin dia lagi mentally nulis caption buat postingan sosmed berikutnya soal betapa pegelnya dia.
Satu hal yang bikin perjalanan ini extra spesial
Di balik semua drama fisik aku, ada satu momen yang actually heartwarming — dan itu bukan soal aku sampai puncak atau nggaknya. Ini soal Mamad.
Perjalanan ke Kerinci ini adalah pertama kalinya Mamad naik pesawat. Ke Padang. Orang yang udah naik ratusan trek gunung, yang punggungnya udah jadi tempat parkir berbagai carrier, yang sabar menghadapi klien paling challenging (aku), untuk pertama kalinya menginjak bandara dan terbang. Dan aku ada di sana waktu itu.
Soal itu — aku mau ceritain lebih rinci di tulisan lain. Ada banyak hal yang lebih worth diceritain dari trip ini, tapi untuk sekarang, aku cuma mau capture vibe-nya dulu. Bahwa Kerinci itu chaotic, aku jelas jadi beban, Esta probably masih sedikit trauma, dan Mamad seperti biasa jadi pahlawan tanpa tanda jasa yang sambil ghibah di belakang.
Pernah ngerasa jadi "yang paling lambat" di suatu perjalanan?
Kalau iya — hi, kita sama. Dan itu okay. Selama kaki masih jalan, selama masih ada Mamad di depan, selama Esta masih mau diajak trip (kak maaf ya beneran), perjalanan tetap worth it.
- Pernah naik Kerinci atau ada dalam wishlist kamu?
- Gimana rasanya jadi yang paling terakhir sampai di trek — pernah ngalamin?
- Ada nggak teman perjalanan yang bikin kamu antara kesel dan sayang dalam waktu bersamaan?
Dengan malu tapi tetap bangga,
Furi

0 comments