Skip to main content

The Root I Almost Didn't Reach For

 


TENTANG RASA SYUKUR

The Root I Almost
Didn't Reach For

JUNI 2026gratitude · a quiet reckoning

"Ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar pergi ,termasuk orang-orang yang memilihmu, bahkan di hari-hari kamu lupa memilih dirimu sendiri."

Di luar jendela kamarku, hujan turun dengan cara yang paling gentle  tidak deras, tidak dramatis. Hanya cukup untuk membuat daun-daun tampak lebih hijau dari biasanya, dan udara membawa petrichor yang selalu terasa seperti pelukan lama. Ada sesuatu yang grounding dari hujan seperti ini. Ia tidak memaksamu untuk merasa apapun. Ia hanya ada.

Beberapa hari terakhir, aku bangun dengan kepala yang terasa seperti diisi pasir basah. Mata sembab, rambut tidak karuan, badan yang diam-diam meminta kompensasi atas segala yang sedang diproses, karena memang begitu cara tubuhku bekerja saat stress datang berkunjung tanpa diundang. Dia selalu minta jatah makan lebih.

· · ·

Lalu, di tengah-tengah tidur yang tidak benar-benar tidur itu, handphone-ku bergetar.

Seseorang mengucapkan selamat pagi. Memanggilku dengan panggilan sayang.

Aku gulir ke bawah. Ada yang bertanya sedang di mana aku. Ada yang menanyakan kabar, bukan sekali, tapi setiap hari seperti ritual kecil yang mereka jaga tanpa aku tahu. Ada video-video lucu yang dikirimkan, asal-asalan, tanpa caption, tapi entah kenapa justru yang seperti itu yang paling terasa.

Aku tidak pernah sendirian. Bahkan di titik paling bawahku — aku tidak pernah benar-benar ditinggalkan.

Dan itu membuat aku terdiam cukup lama.

Karena selama ini, aku begitu sibuk mengeluh tentang beratnya cobaan yang kurasa dijatuhkan Tuhan kepadaku seolah-olah aku satu-satunya yang sedang membawa beban, seolah-olah langit sedang bersikap tidak adil secara personal kepadaku sampai aku lupa melihat semua yang ada di sekelilingku. The irony is almost painful: aku menuntut keadilan dari atas, sementara aku sendiri sedang zalim terhadap diri sendiri.

Aku yang membiarkan pikiranku menjadi penjaranya sendiri. Aku yang mengabaikan semua tanda. Aku juga yang memilih untuk tetap di lubang yang sama, padahal ada banyak akar dan ranting yang bisa kugapai untuk naik.

· · ·

Aku beranjak dari kasur dan berjalan ke jendela.

Di bawah, seorang bapak ojek online sekitar 60-an, sedikit membungkuk di atas motornya — sedang berhenti di depan taman. Ia membuka kaca helmnya dan mencoba membaca sesuatu dari layar handphone-nya. Berkali-kali ia usap layarnya, mengusir tetes hujan yang menghalangi pandangannya.

Lalu ia tersenyum. Kecil saja. Tapi nyata.

Dan tanpa aku sadari, air mataku jatuh.

Bukan karena aku menangis. Tapi karena tiba-tiba aku melihat. Benar-benar melihat. Bahwa di situasi terbawahku sekalipun, aku masih bisa berdiri di tempat yang indah. Masih punya atap, masih punya teman, masih ada yang menyayangiku. Bahkan di hari-hari paling berat pun, hidupku masih sangat sangat baik.

Surga mana lagi yang harus ku dustai?

Ada kelegaan yang aneh saat kamu akhirnya mengakui bahwa kamu adalah sumber dari sebagian besar penderitaanmu sendiri. Bukan karena mau menyalahkan diri tapi karena itu artinya you have more power than you think. Kamu yang bisa memilih untuk naik.

Aku ingin kembali ke masa "itu"  masa ketika aku terasa seperti diriku yang paling utuh. Tapi kali ini, lebih baik. Dengan kesadaran yang lebih. Dengan rasa syukur yang tidak lagi harus menunggu lubang dulu untuk belajar menghargai akar.

Bantu aku ya, Tuhan.
Aku tahu aku akan sedikit mengacau di tengah jalan ini 
tapi aku akan menjadi lebih baik.

amin.

Comments

Popular posts from this blog

EP.1TIPS "Apakah Double Cleansing Itu Penting?"

  🫧 Apakah Double Cleansing Itu Penting? (Atau cuma trik biar kita beli dua sabun sekaligus?) Hai gengs skincare-an dan calon-calon kulit glowing alami~ Pernah nggak sih liat orang di TikTok atau Instagram yang bilang: “Kunci kulit bersih tuh  double cleansing, bestie! ” Terus lo mikir, “Lah… double cleansing apaan lagi? Satu aja udah mager, ini disuruh dua kali cuci muka?” 😭 Tenang, tenang. Mari kita bahas dengan kepala (dan pori-pori) yang dingin. 💄 Jadi, Apa Itu Double Cleansing? Double cleansing itu artinya  cuci muka dua kali , tapi bukan pakai sabun yang sama dua kali ya. Langkahnya kayak gini: First Cleanse:  pakai  oil cleanser  atau  micellar water  buat ngangkat makeup, sunscreen, dan kotoran berbasis minyak. Second Cleanse:  baru deh pakai  facial wash  atau  foam cleanser  buat bersihin sisa kotoran yang berbasis air. Logikanya simpel banget: Kotoran berbasis minyak → hilangnya pakai minyak. Kotoran berbasis...

Jerawat oh jerawat

Perjalanan Gw Melawan Jerawat Hello epribadih! Di sini gw mau share pengalaman pribadi tentang  jerawat . Jujur, alasan gw nulis ini karena udah  lelah banget  baca artikel-artikel yang isinya cuma ngomongin bahan alami “katanya bisa blablabla”, atau malah ujung-ujungnya jualan produk nggak jelas. Ini murni  pengalaman pribadi gw sendiri , tanpa sponsor, tanpa jualan. Awalnya, muka gw baik-baik aja — bahkan bisa dibilang keren lah ya 😎 Kalau jerawatan pun cuma satu dua, gw pencet, langsung hilang tanpa bekas. Kadang gw mikir, “wah jangan-jangan gw beda dari manusia normal wkwkwkw” (jangan baper, bercanda ya). Tapi serius, kulit gw dulu mulus banget, meskipun sawo matang dan jelas bukan putih — tapi ya lumayanlah buat ukuran muka. Hingga suatu hari, negara api menyerang 🔥 Muka gw hancur lebur. Awalnya cuma muncul bintik-bintik kecil kayak komedo, tapi karena gw sering  garuk dan pencet , malah ninggalin  bekas hitam-hitam  di muka. Foto ini diambil se...

Hai, Nama Aku Furi and Honestly, My Life is a Lot

  Halo! Welcome to my little corner of the internet — yang sejujurnya baru aku bikin karena ngerasa butuh tempat. Bukan tempat makan (walaupun itu juga super penting buat aku), tapi tempat buat cerita. Karena kalau diceritain ke orang, kadang yang ada malah jadi bahan gosip. Kalau disimpen sendiri, ya numpuk. Jadi nulis aja sekalian, right? Nama aku Furi.  Perempuan biasa yang hidupnya kalau diliat dari luar kelihatan chill. Tapi actually? Kepala aku itu penuh banget. Penuh keinginan, penuh rencana, dan somehow juga penuh masalah yang mostly aku bikin sendiri. Banyak keinginan = banyak drama (and I own that) Aku ini orangnya pengen banyak hal. Mau staycation di sini, mau nyobain resto baru itu, mau belajar hal ini, mau beli itu — tapi dompet dan waktu sering kali have their own agenda. Dan dari situlah lahir berbagai episode kecil dalam hidup aku yang kelihatannya sepele tapi cukup bikin pusing sendiri. "I'm not a problem solver. I'm literally the source of the problem. Ta...