TENTANG RASA SYUKUR
The Root I Almost
Didn't Reach For
"Ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar pergi ,termasuk orang-orang yang memilihmu, bahkan di hari-hari kamu lupa memilih dirimu sendiri."
Di luar jendela kamarku, hujan turun dengan cara yang paling gentle tidak deras, tidak dramatis. Hanya cukup untuk membuat daun-daun tampak lebih hijau dari biasanya, dan udara membawa petrichor yang selalu terasa seperti pelukan lama. Ada sesuatu yang grounding dari hujan seperti ini. Ia tidak memaksamu untuk merasa apapun. Ia hanya ada.
Beberapa hari terakhir, aku bangun dengan kepala yang terasa seperti diisi pasir basah. Mata sembab, rambut tidak karuan, badan yang diam-diam meminta kompensasi atas segala yang sedang diproses, karena memang begitu cara tubuhku bekerja saat stress datang berkunjung tanpa diundang. Dia selalu minta jatah makan lebih.
Lalu, di tengah-tengah tidur yang tidak benar-benar tidur itu, handphone-ku bergetar.
Seseorang mengucapkan selamat pagi. Memanggilku dengan panggilan sayang.
Aku gulir ke bawah. Ada yang bertanya sedang di mana aku. Ada yang menanyakan kabar, bukan sekali, tapi setiap hari seperti ritual kecil yang mereka jaga tanpa aku tahu. Ada video-video lucu yang dikirimkan, asal-asalan, tanpa caption, tapi entah kenapa justru yang seperti itu yang paling terasa.
Dan itu membuat aku terdiam cukup lama.
Karena selama ini, aku begitu sibuk mengeluh tentang beratnya cobaan yang kurasa dijatuhkan Tuhan kepadaku seolah-olah aku satu-satunya yang sedang membawa beban, seolah-olah langit sedang bersikap tidak adil secara personal kepadaku sampai aku lupa melihat semua yang ada di sekelilingku. The irony is almost painful: aku menuntut keadilan dari atas, sementara aku sendiri sedang zalim terhadap diri sendiri.
Aku yang membiarkan pikiranku menjadi penjaranya sendiri. Aku yang mengabaikan semua tanda. Aku juga yang memilih untuk tetap di lubang yang sama, padahal ada banyak akar dan ranting yang bisa kugapai untuk naik.
Aku beranjak dari kasur dan berjalan ke jendela.
Di bawah, seorang bapak ojek online sekitar 60-an, sedikit membungkuk di atas motornya — sedang berhenti di depan taman. Ia membuka kaca helmnya dan mencoba membaca sesuatu dari layar handphone-nya. Berkali-kali ia usap layarnya, mengusir tetes hujan yang menghalangi pandangannya.
Lalu ia tersenyum. Kecil saja. Tapi nyata.
Dan tanpa aku sadari, air mataku jatuh.
Bukan karena aku menangis. Tapi karena tiba-tiba aku melihat. Benar-benar melihat. Bahwa di situasi terbawahku sekalipun, aku masih bisa berdiri di tempat yang indah. Masih punya atap, masih punya teman, masih ada yang menyayangiku. Bahkan di hari-hari paling berat pun, hidupku masih sangat sangat baik.
Ada kelegaan yang aneh saat kamu akhirnya mengakui bahwa kamu adalah sumber dari sebagian besar penderitaanmu sendiri. Bukan karena mau menyalahkan diri tapi karena itu artinya you have more power than you think. Kamu yang bisa memilih untuk naik.
Aku ingin kembali ke masa "itu" masa ketika aku terasa seperti diriku yang paling utuh. Tapi kali ini, lebih baik. Dengan kesadaran yang lebih. Dengan rasa syukur yang tidak lagi harus menunggu lubang dulu untuk belajar menghargai akar.
Aku tahu aku akan sedikit mengacau di tengah jalan ini
tapi aku akan menjadi lebih baik.
amin.

0 comments